Lahir pada 17 September 1995, Riska tumbuh dalam keluarga dengan latar budaya yang berbeda. Ayahnya berasal dari Denpasar, Bali, sementara ibunya berasal dari Bandung, Jawa Barat. Perpaduan dua budaya tersebut membentuk karakter dirinya menjadi pribadi yang fleksibel, mandiri, dan memiliki kemampuan beradaptasi yang kuat sejak kecil.
Masa kecil yang dijalani antara Bali dan Bandung membuat Riska mengenal banyak pengalaman hidup. Namun di balik aktivitasnya saat ini sebagai pebisnis dan konten kreator, dunia pencak silat menjadi bagian penting yang membentuk mentalnya sejak dini.
Sejak sebelum duduk di bangku sekolah dasar, Riska telah dikenalkan pada pencak silat oleh sang kakek, Anang Setiawan, pendiri padepokan P3S Gagak Lumayung di Bandung. Dari lingkungan keluarga itulah ia belajar tentang disiplin, fokus, dan kerja keras.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Riska, pencak silat bukan sekadar olahraga bela diri. Silat menjadi proses pembentukan karakter yang mengajarkan keberanian, pengendalian emosi, hingga rasa tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Kemampuannya terus berkembang hingga aktif mengikuti berbagai kejuaraan sejak masa sekolah. Berbagai penghargaan berhasil diraih, termasuk sejumlah gelar juara pertama dalam kompetisi pencak silat. Ketekunannya membawanya mencapai tingkat sabuk hitam dengan spesialisasi partner tanding yang membutuhkan kekompakan dan strategi tinggi.
Tidak hanya aktif di dunia bela diri, Riska juga memiliki ketertarikan pada dunia seni. Ia pernah terlibat dalam berbagai kegiatan modeling dan seni budaya. Kemampuannya menarikan tari Jaipong menjadi salah satu sisi lain yang menunjukkan kecintaannya terhadap budaya Indonesia.
Memasuki usia remaja, Riska mulai menunjukkan jiwa kewirausahaan. Saat masih duduk di bangku SMA, ia mulai menjual aksesori hasil kreativitasnya sendiri kepada teman-teman sekolah. Usaha kecil itu perlahan berkembang menjadi RAF Accessories.
Berbekal kreativitas dan kemauan belajar, Riska mampu mengembangkan usahanya hingga menjangkau pasar di berbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Bali. Menariknya, ia juga aktif memberdayakan pengrajin lokal dengan mengajak mereka memproduksi desain-desain aksesori buatannya.

Baginya, bisnis tidak hanya soal keuntungan, tetapi juga bagaimana menciptakan peluang kerja dan membantu masyarakat tetap produktif.
Perjalanan Riska tidak berhenti di sana. Saat media sosial berkembang menjadi ruang baru bagi kreativitas, ia kembali melihat peluang. Berawal dari kebiasaan membagikan aktivitas sehari-hari, ia mulai serius membangun karier sebagai konten kreator.
Dalam beberapa tahun terakhir, namanya semakin dikenal di dunia digital melalui konten-konten lifestyle, bisnis, hingga aktivitas keseharian yang dibagikannya di media sosial. Konsistensinya membangun personal branding membuat dirinya mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan dunia digital yang sangat cepat.
Kini, selain aktif sebagai konten kreator, Riska juga menjalankan usaha di bidang aksesori, parfum, dan properti. Ia pun dipercaya menjabat sebagai Direktur CV. RAF Collection.
Perjalanan hidup Riska Findiana menjadi gambaran tentang perempuan muda yang tidak takut berkembang di berbagai bidang. Dari dunia silat, seni, bisnis, hingga digital kreatif, semuanya dijalani dengan semangat yang sama: terus belajar, terus bertumbuh, dan tetap membawa manfaat bagi orang lain.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, sosok Riska menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya dituntut untuk sukses secara pribadi, tetapi juga mampu menciptakan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.














