Liputan Aset Publik Terhambat, Empat Wartawan di Intimidasi dan Diminta Foto KTA di Green Village

- Penulis

Sabtu, 17 Januari 2026 - 15:29 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KOTA TANGERANG, katasatu.id – Empat wartawan media online dari sejumlah media berbeda diduga mengalami intimidasi dan penghalangan kerja jurnalistik saat meliput persoalan perpakiranfasilitas sosial dan fasilitas umum (fasos-fasum) di Perumahan Green Village, Kecamatan Pinang, Kota Tangerang, Rabu (14/1/2026) sore.

Para wartawan mengaku dilarang meliput jalannya pertemuan, diminta memperlihatkan dan difoto kartu identitas pers (KTA), serta ditahan di lokasi hingga menjelang waktu Magrib.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 17.00 WIB di area kolam renang yang digunakan sebagai balai warga.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat itu berlangsung pertemuan antara PT RISG Indonesia One, perwakilan PT TNG (BUMD Pemkot Tangerang), manajemen Green Village, pengurus RT/RW, Ketua RW setempat, dan petugas keamanan.

Dilarang Masuk Ruangan

Keempat wartawan awalnya datang untuk meliput polemik lahan parkir fasos-fasum yang disebut sebagai aset Pemerintah Kota Tangerang. Namun saat hendak memasuki aula pertemuan, mereka dihentikan dua petugas keamanan.

Baca Juga:  Bupati Tangerang Lantik 8.205 Paruh Waktu, Bekerja Sepenuh Hati dan Jaga Etika Profesi

Alasannya, wartawan tidak memiliki undangan resmi. Petugas keamanan menyebut larangan tersebut atas perintah atasan dan Ketua RW.

“Kami diminta menunggu di luar. Dari dalam ruangan terdengar teriakan dan kegaduhan,” ujar salah satu wartawan.

Wartawan juga dilarang mengambil foto, video, maupun merekam suara selama pertemuan berlangsung.

Dipaksa Foto Identitas

Usai pertemuan, wartawan mencoba meminta keterangan Ketua RW untuk kepentingan pemberitaan berimbang. Namun permintaan itu ditolak.

Tak lama kemudian, seorang pria dan seorang perempuan yang disebut pengurus RT meminta wartawan menunjukkan KTA dan memaksa untuk memfotonya.

“Kami menolak KTA difoto. Identitas sudah kami tunjukkan, tapi tidak untuk didokumentasikan,” kata salah satu wartawan.

Para wartawan mengaku identitas media sudah diserahkan sejak awal masuk kawasan perumahan dan tercatat di pos keamanan.

Baca Juga:  Warga Mengeluh Bau dan Air Tercemar, PDI-P DPRD Tangsel Lakukan Sidak Cipeucang

Klarifikasi Ketua RW dan Security

Ketua RW setempat membenarkan adanya larangan peliputan. Menurutnya, pertemuan tersebut bersifat internal.

“Itu forum internal warga dan pengelola, jadi tidak untuk diliput,” ujarnya singkat.

Sementara itu, perwakilan petugas keamanan menyebut pihaknya hanya menjalankan prosedur dan perintah pimpinan.

“Kami menjalankan tugas sesuai aturan keamanan kawasan,” kata petugas keamanan.

Akan Tempuh Jalur Hukum

Meski tidak terjadi kekerasan fisik, para wartawan menilai peristiwa tersebut sebagai dugaan pelanggaran Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

“Kami bekerja sesuai kode etik. Melarang liputan, memaksa foto identitas, dan menahan wartawan di lokasi adalah bentuk penghalangan kerja pers,” ujar wartawan lainnya.

Para wartawan menyatakan akan melaporkan insiden tersebut ke pihak kepolisian.

“Ini bukan soal pribadi, tapi soal kebebasan pers,” tegasnya.

Baca Juga:  Warga Serpong Resah, Air Sumur Tercemar Limbah Sampah Cipeucang

Ahli Hukum Pers: Ada Dugaan Penghalangan Kerja Jurnalistik

Ahli hukum pers menilai peristiwa yang dialami empat wartawan saat meliput fasos-fasum di Perumahan Green Village, Kota Tangerang, berpotensi melanggar Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Pakar hukum pers Abdul Manan mengatakan, pelarangan liputan dan pembatasan akses tanpa dasar hukum jelas dapat dikategorikan sebagai penghalangan kerja jurnalistik.

“Fasos-fasum adalah kepentingan publik. Tidak bisa serta-merta disebut forum internal lalu pers dilarang meliput,” kata Abdul Manan. 

Ia menegaskan, Pasal 18 ayat (1) UU Pers mengatur sanksi pidana bagi pihak yang dengan sengaja menghambat atau menghalangi kerja pers.

Terkait permintaan memfoto kartu identitas pers (KTA), Abdul Manan menyebut tindakan itu tidak dibenarkan.

“Wartawan cukup menunjukkan identitas, bukan untuk difoto atau didokumentasikan,” ujarnya.

(Tim/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel katasatu.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

BPI-KPNPA dan SJB Buka Ruang Dialog Soal Pelayanan Polisi, Aduan Dugaan Mafia Tanah Jadi Sorotan
BPN se-Banten Raih Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik 2026, Wujud Komitmen Transparansi Layanan
Responsif Terhadap Aduan, BPN Banten Gandeng Ombudsman Tindak Lanjuti Aduan Masyarakat
Balai Latihan POLIRAN Polda Banten di Serang Kantongi Sertifikat Hak Pakai
500 Botol Miras Hasil Razia Sempat Raib, Oknum Satpol PP Tangsel Terancam Dipecat
Ratusan Botol Miras Diduga Raib dari Gudang Satpol PP Tangsel, Sebagian Disebut Sudah Dikembalikan
Turap Kali Jeletreng Diprotes Warga, Camat Setu Akui Sudah Tegur dan Lapor ke Dinas SDAMBK
Warga Protes Pembangunan Turap Kali Jeletreng Tangsel, Izin Proyek Dipertanyakan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 7 November 2026 - 09:44 WIB

BPI-KPNPA dan SJB Buka Ruang Dialog Soal Pelayanan Polisi, Aduan Dugaan Mafia Tanah Jadi Sorotan

Kamis, 5 November 2026 - 13:44 WIB

BPN se-Banten Raih Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik 2026, Wujud Komitmen Transparansi Layanan

Kamis, 5 November 2026 - 03:03 WIB

Responsif Terhadap Aduan, BPN Banten Gandeng Ombudsman Tindak Lanjuti Aduan Masyarakat

Selasa, 3 November 2026 - 05:18 WIB

Balai Latihan POLIRAN Polda Banten di Serang Kantongi Sertifikat Hak Pakai

Jumat, 30 Oktober 2026 - 04:54 WIB

500 Botol Miras Hasil Razia Sempat Raib, Oknum Satpol PP Tangsel Terancam Dipecat

Berita Terbaru